KABARDESA.com, Banyumas – Kondisi geografis Indonesia membuat sumber daya alam melimpah ruah di setiap wilayah. Tidak hanya tanahnya yang terkenal subur, Indonesia pun juga punya ribuan mata air yang terus mengucur. Tentu ini adalah berkah dari Yang Maha Pencipta agar dapat dimanfaatkan untuk kehidupan bersama.

Di sebuah desa yang berada di lereng Gunung Slamet, juga terdapat berbagai sumber air yang melimpah. Bahkan di daerah ini termasuk daerah yang terus memiliki air, meski musim kemarau. Sayangnya, bagi warga Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas ini sangat kesulitan mendapatkan air meskipun daerahnya terdapat sumber air.

Hal ini dikarenakan pemukiman warga Desa Kotayasa berada di perbukitan, sedangkan sumber air berada di lembah. Sehingga sudah belasan tahun silam, warga Desa Kotayasa harus berjuang naik turun bukit untuk mendapatkan air bersih baik pagi maupun sore hari.

Tapi itu dulu, untuk sekarang warga Desa Kotayasa sudah bisa langsung mengucurkan air dari kran-kran yang berada di rumah. Kondisi ini tak terlepas dari pengaruh salah satu warganya yang tak mau melihat kondisi warganya yang harus kesulitan mengambil air setiap hari.

Pompa Air Hysu
Salah satu pompa air Hysu

Beliau adalah Sudiyanto (52), warga desa biasa yang telah berkarya untuk desanya dengan membuat pompa air agar dapat menaikkan air dari sumbernya ke pemukiman warga yang letaknya di atas. Sudiyanto membuat pompa air hydram (hydraulic ram) yang mampu mendorong air dari bawah ke atas tanpa bantuan tenaga listrik maupun bahan bakar, sehingga ini murni menggunakan tenaga air. Beliau menamakan pompa airnya ini dengan nama “Hysu” yang artinya Hydram Sudiyanto.

Sempat Dianggap ‘Gila’

Sudiyanto - Inovator Pompa Air Hygram Desa Kaliyasa

Sudiyanto memiliki keinginan kuat bagaimana agar warganya bisa mendapatkan air bersih dari sumber mata air yang ada tanpa harus menggunakan alat yang bertenaga listrik dan bahan bakar lainnya.

Berbekal buku lama yang terdapat di perpustakaan desanya, beliau akhirnya mendapatkan referensi tentang sebuah teknologi pompa buatan yang dapat mendorong air ke atas dengan memanfaatkan tenaga air itu sendiri.

Akhirnya mantan kepala desa tahun 1999 ini mencoba untuk mempraktekan teori yang ada di buku itu. Namun sayang, buku tersebut berbahasa Belanda dan beliau sama sekali tidak mengerti. Beruntung Sudiyanto dibantu salah seorang warganya yang mengerti Bahasa Belanda dan ia membantu menerjemahkan maksud yang ada di buku itu. Waktu mempraktekan teori ini, beliau tidak ingin warganya tahu dulu.

Sehingga aksinya ini sempat dianggap ‘gila’ oleh warga, karena bagi sebagian orang awam sangat mustahil bagaimana air yang berada di 300 meter bawah pemukiman warga bisa naik ke rumah-rumah hanya berbekal tenaga air saja.

Tetapi itu tidak membuat Sudiyanto patah semangat, beliau terus mencoba untuk merealisasikan mimpinya.

Berbekal modal sekitar Rp 5 juta yang diperoleh dari kerabatnya, pompa air hydram ini akhirnya jadi dengan sedikit modifikasi. Soalnya dalam referensi di buku tersebut tertulis pompa air tenaga air ini hanya bisa mendorong air sampai ketinggian 7 meter saja, sehingga Sudiyanto harus memutar otak bagaimana agar bisa melontarkan air sampai ketinggian 300 meter. Padahal pemukiman warga berada 300 meter dari sumber air.

Terus mencoba untuk memperbaiki, suatu saat Sudiyanto justru mengalami masalah. Pompa air hydram terjadi kebocoran dari hentakan pompanya. Yang membuatnya heran, kebocoran ini malah membuat hentakan pompa menjadi lebih bagus dan air yang terdorong ke atas menjadi lebih konstan.

Dari situlah Sudiyanto mulai memahami cara kerja terbaik dari pompa hydram ini. Dan bisa berkembang hingga sekarang.

Pompa Air Hysu berbeda dengan hydram pada umumnya

Sudiyanto - Inovator Pompa Air Hygram
Sudiyanto sedang menjelaskan cara kerja pompa air Hysu miliknya kepada para blogger di rumahnya Desa Kaliyasa, Rabu (12/7). Foto oleh Firmansyah

Pria lulusan Madrasah Aliyah ini mengatakan kalau pompa air Hysu ini tidak seperti hydram pada umumnya. Beliau memberikan alasan jika pompa air Hysu miliknya ini memiliki aliran air yang lebih konstan. Setiap waktu pompa air Hysu ini selalu dilakukan rekayasa baru seperti pemindahan poma, penambahan komponen di dalamnya, dll. Sehingga pompa air ini mendapatkan kualitas terbaiknya.

Dari segi katup yang digunakan, pompa air Hysu ini telah menggunakan katup kerucut, bukan silinder lagi. Inilah yang membuat aliran lebih konstan.

Installasi Hysu
Bak penampungan air dari sumber mata air yang nantinya langsung diluncurkan ke pompa air yang berada di bawah.

Dari segi tenaga, Pompa Air Hysu ini memiliki daya lontaran hingga 500 meter, atau tiga kali lipat dari hyram biasa.

Ada cerita menarik saat beliau mengikuti kompetisi Indonesia Daya Masyarakat tahun 2005 di Jakarta. Di sana beliau memaparkan inovasi pompa airnya ini dan akhirnya beliau menjadi pemenang dalam kompetisi tersebut untuk kategori Karya Inovatif. Lantas beliau menjual miniatur pompa tersebut ke inovator lain, sayangnya justru malah dipatenkan oleh orang lain.

Sudiyanto - Pemenang Kompetisi IndonesiaDM 2005

Tapi itu pompa yang bentuk lama, dan sekarang Sudiyanto telah berinovasi untuk membuat yang baru lagi dan telah dibantu oleh Bappeda Litbang Banyumas untuk mengadakan penelitian serta dukungan sebagian pendanaan dan ditambah dari usaha pribadi salah satunya dari PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Harmoni.

Di PKBM ini ada pendidikan non formal yang salah satu bahan ajarnya tentang pompa tenaga air. Selain itu, beliau juga menerima diklat dari berbagai kabupaten untuk hal pompa air. Baru-baru ini ada yang dari Aceh, Kalimantan, Lampung termasuk dari PDAM Surabaya, pernah belajar di sini.

Pompa air Hysu ini sudah ada sejak 1997 dan mulai beroperasi untuk warga pada tahun 2005. Hingga saat ini keberadaa pompa air Hysu mampu memberikan kebutuhan air para warga di Desa Kaliyasa dengan jangkauan 7 RT. Per rumah hanya dikenakan biaya Rp 300,- per kubiknya. Dan rata-rata pengeluaran tiap rumah sekitar Rp 10.000 per bulan.

Rencananya juga akan dibangun lebih dari satu pompa air, mengingat di Desa Kaliyasa ini memiliki lebih dari satu sumber mata air. Sayang, ketika kami tanya mengenai kontribusi dari Pemerintah Desa, beliau mengatakan jika dari Pemdes tidak mendukung dari segi pendanaan, apalagi sekarang telah ada Dana Desa.

***

Juguran Blogger 2017
Foto bersama peserta Juguran Blogger Indonesia 2017 dengan Pak Sudiyanto – Foto oleh Evi Indrawanto/Mas Kuch

Tulisan ini merupakan publikasi perjalanan dari serangkaian kegiatan “Juguran Blogger Indonesia 2017” kerjasama antara Komunitas Blogger Banyumas dengan Bappeda Litbang Banyumas dan didukung oleh  Bank Indonesia Perwakilan Purwokerto, pada 11-13 Juli 2017. Kegiatan ini juga disponsori oleh PANDI, @fourteen_adv, @lojadecafe, dan Hotel Santika Purwokerto.

Jika sedang di Banyumas, tak ada salahnya mampir ke Desa Kotayasa melihat karya dari Pak Sudiyanto. Atau juga bisa menghubungi beliau di 081548894211.

Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong 2017

6 COMMENTS

  1. Maturnuwun atas kedatangannya.

    “Jika sedang di Banyumas, tak ada salahnya mampir ke Desa Kaliyasa melihat karya dari Pak Sudiyanto. Atau juga bisa menghubungi beliau di 081548894211.”

    Desa Kotayasa, kak ^_^

  2. Semoga karya Pak Sudianto bisa membantu desa-desa terpencil lainnya di Indonesia yang tidak mungkin membangun pompa air yang harus menggunakan listrik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here