Sri Sulastri, menangkap peluang usaha di desa dengan menjual tempe-tahu di pasar kethembreng Randusari (foto : Darojat)
Sri Sulastri, menangkap peluang usaha di desa dengan menjual tempe-tahu di pasar kethembreng Randusari (foto : Darojat)

KabarDesa.Com, Tegal – Bagi sebagian besar orang, setelah lama bekerja di Jakarta kemudian kembali ke kampung halaman mungkin ada semacam rasa kebingungan soal apa yang akan diperbuat di desa. Biasanya mereka  akan berpikir, mau kerja apa ya di desa.

Namun tidak demikian bagi perempuan yang satu ini, dia lah Sri Sulastri (30 tahun), wanita dari Desa Surokidul Kecamatan Pagerbarang Kabupaten Tegal Jawa Tengah ini begitu menetap kembali di desa setelah merantau di Jakarta, ia mengambil keputusan untuk mencari kegiatan di desa dengan berjualan tahu dan tempe di pasar kethembreng (pasar yang berlangsung singkat hanya sekitar 3 jam) di Desa Randusari.

Dia tidak memproduksi tempe atau tahu sendiri, namun hanya sebagai penjual saja. Untuk mendapatkan barang dagangannya, ia kulakan pada pengrajin tahu atau tempe di desa lain.

Kepada kabardesa.com, Rabu (18/1/2017), Sri Sulastri menuturkan, sedikitnya dalam sehari mampu menjual tahu 20 widig – sebuah sebutan untuk wadah tahu – atau sekitar 2000 potong tahu dan 120 buah tempe.

Dari penjualan tersebut, menurutnya bisa  menghasilkan keuntungan bersih sekitar Rp.100.000, kadang bisa lebih.  ” Alhamdulillah bisa untuk bantu-bantu menutup kebutuhan rumah tangga, ” kata perempuan berputra 1 ini.

Sedikit berbagi tips bagi mereka yang mau mencari peluang usaha di desa, Sri Sulastri menuturkan, carilah usaha yang paling banyak dibutuhkan masyarakat desa dan harga jualnya harus di sesuaikan dengan kanthong orang desa. (dar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here