Gido. Tujuh puluh tahun sudah Indonesia merdeka, namun masyarakat di Desa Ladea Orahua Kecamatan Gido Kabupaten Nias, Sumatera Utara ini, juga masih belum merasakan dampak kemerdekaan itu. Desa yang berjarak hanya sekitar 10 Km dari calon Ibu Kota Kabupaten Nias yakni Kecamatan Gido ini, belum dapat dilalui kendaraan roda empat, serta Perusahaan Listrik Negara  (PLN), juga belum menyentuh daerah ini.

Jalan yang menghubungkan desa Somi Botogo’o dengan desa Ladea Orahua ini, mulai dapat dilalui kendaraan roda dua setelah PNPM Mandiri membangun jalan rabat beton selebar 1 meter, itu pun kondisinya kini telah rusak berat, dan ketika melaluinya dengan kendaraan roda dua butuh kehati-hatian dan tenaga ekstra, guna menghindari kendaraan oleng dan jatuh.

Salah seorang Guru SD, yang hari-harinya melewati jalan itu mengaku sering jatuh dan terpeleset, tak jarang kendaraan mereka sering mengalami kerusakan dan hampir tiap tahunnya turun mesin. Apalagi jika cuaca hujan, hampir dipastikan jalan ini tidak dapat dilalui, ia berharap pemerintah memperhatikan jalan ini agar segera mungkin dibangun, mengingat jalur itu adalah satu-satunya penghubung bagi masyarakat di Desa Ladea Orahua untuk mengangkut hasil bumi menuju Desa Somi yang telah dapat dilalui kendaraan roda empat.

“kami sangat mengharapkan perhatian pemerintah Kabupaten Nias untuk segera membangun jalan antar penghubung desa Somi Botogo’o dengan Ladea Orahua ini, kami yang sering melewati jalan ini tak jarang sering jatuh dan terpeleset, motor juga menjadi sasaran utama mengalami kerusakan. Yang paling mirisnya lagi masyarakat disini mesti menggontong hasil bumi sejauh kurang lebih 5 km, Ujar salah seorang Guru  yang mengajar disebuah SD di Ladea Orahua.

Pelaksanaan Dana Desa Terhambat

Yesaya Gulo, Kepala Desa Ladea Orahua mengaku kesulitan untuk menjalankan pembangunan di Desa, terutama pada pelaksanaan Dana Desa tahun 2015, dimana sampai sekarang juga belum terlaksana 100%. Yesaya mengaku sampai bulan Februari 2016 ini, dana Desa tahap pertama khusus fisik pengerasan jalan masih tahap pelangsiran bahan.

“disini kami susah untuk melaksanakan program pembangunan Desa, terutama fisik. Yah… dana sudah masuk kerekening desa untuk tahap pertama, namun pelaksanaannya masih belum selesai. Bayangkan saja material harus dilangsir dengan kendaraan roda dua dari desa Somi Botogo’o dengan melalui jalan yang sudah rusak parah sejauh kurang lebih 4 Km, yah syukur-syukur masih ada semangat masyarakat disini untuk bersedia melangsir material dengan menggunakan kendaraan roda dua mereka, jika tidak maka, apapun dana yang masuk kedesa ini untuk meningkatkan infrastruktur didesa, saya pastikan tidak berjalan efektif”, ujarnya.

Ia mejelaskan, untuk  material batu  saja, harga perkubiknya ditambah biaya pelangsiran sampai ke lokasi, mencapai  Rp. 700.000 (tujuh ratus ribu rupiah) Karena untuk pelangsiran kami membayar per trip satu kendaraan roda dua dengan  berat muatan kurang lebih 70 kg. sebesar Rp. 25.000, (dua puluh lima ribu rupiah).

“Pada musrembang desa yang kami laksanakan pada bulan Januari 2016 yang lalu, pengajuan pembangunan jalan penghubung desa Somi Botogo’o dengan desa Ladea Orahua ini menjadi usul pembangunan  paling prioritas, mengingat sepanjang jalan ini belum dapat dilalui kendaraan roda empat maka dipastikan pembangunan di desa Ladea Orahua tidak akan berjalan sebagaimana kita harapkan, semoga pemerintah daerah dapat mengabulkan usulan kami , Kata Yesaya. BN

Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here