Kabardesa.com, Lahat – Perubahan iklim cuaca dan lingkungan sekitar imbas dari pengaruh global ternyata mulai dirasakan oleh masyarakat di Kabupaten Lahat. Sebagai salah satu daerah penyuplai padi di kabupaten ini, Kecamatan Kota Agung kini mulai merasakan pasang surut suplai air dari jaringan irigasi yang ada.

Sebagai solusinya, kini warga bersama Pemerintah Desa dan didukung oleh Pemerintah Daerah mulai menggalakan pemanfaatan embung. Dengan adanya program seperti ini, paling tidak apa yang menjadi permasalahan beberapa waktu terakhir dapat terpecahkan.

Kepada Kabardesa.com, Jum’at (20/1/2017), Kepala Desa Singapure, Arsito Hasan menyampaikan bahwa desa mereka tahun ini mulai menggarap pemanfaatan embung sebagai media penampungan air di sekitar lahan pertanian warganya.

“Hal ini menarik untuk ditindak lanjuti, sebab paling tidak ada sekitar 15 hektar sawah warga yang sejak beberapa tahun terkahir tidak bisa digarap untuk penanaman padi. Ini sangat kontra dengan sebutan kecamatan kita sebagai salah satu daerah penyuplai beras untuk Kabupaten Lahat.

Kita mungkin tidak membahasnya terlalu luas, dalam cakupan desa saja hal ini sangat memprihatinkan, artinya kalau ke 15 hektar sawah tersebut tidak garap, bisa dihitung secara kasar bahwa ada 15 kepala keluarga yang tidak memiliki cadangan padi untuk kebutuhan pangan mereka,” jelas Arsito.

Kemudian imbasnya secara tidak langsung kita harus mencarikan cadangan beras dari luar desa, dan tentu kalau sudah mendatangan dari luar ada perkalian ekonominya. Dengan perhitungan kalau 1 keluarga dengan 5 jiwa paling tidak membutuhkan 5 hingga 6 kwintal beras selama 1 tahun.

“Kalau satu kali musim tanam sawah tersebut menghasilkan 1 hingga 2 ton saja, kita sudah mengalami defisit suplai beras pada kisaran 30 ton. Akibat lain adalah secara ekonomi tentu akan ada berkurangnya pendapatan warga, hanya karena mereka tak bisa menggarap sawah sebab kekurangan suplai air tersebut.

Menyikapinya, kami mencoba memperbincangkan hal ini dengan beberapa komponen yang ada di desa. Hasilnya secara cepat untuk penanggulangannya adalah dengan pembuatan embung. Suplai air yang ada di sekitar kita coba kita tampung dan dikumpulkan ke dalam embung ini, bila suatu waktu air tersebut diperlukan, kita bisa alirkan ke areal persawahan warga, dengan mekanisme pengaturan sesuai kesepakatan,” paparnya lagi.

Tak hanya untuk perairan sawah ungkap Arsito, Embung bisa juga dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan warga. Artinya secara langsung dengan satu kegiatan penanggulangan kita telah memperoleh dua manfaat.

Seterusnya dia juga mengatakan, kegiatan ini juga sangat didukung oleh pemerintah dalam hal ini Dinas Tanaman Pangan (TPH) Kabupaten Lahat. Untuk langkah awal mereka telah melakukan penggalian dan pembuatan embung. Ke depan mereka tinggal menunggu realisasi bantuan dari dinas terkait yang kabarnya telah dianggarkan pada tahun 2017 ini.

“Kami sangat siap mendukung dan membantu kepala desa dalam penanganan dan pembuatan embung ini. Karena ini juga bisa membantu warga yang kini tengah dalam kesulitan air untuk penggarapan lahannya.

Paling tidak ke 15 hektar lahan ini kedepan kembali bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian warga kami, dengan relasi di KTNA kabupaten harapan itu memang kami sampaikan kepada kepala desa,” kata Viktor salah satu warga desa tersebut.

Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here