KabarDesa.com, Klaten – Bukan sekedar kolaborasi antar genre musik, tetapi dalam gelaran “Tokyo Sobo Joglo” yang diselenggarakan di Padepokan Ash-Shomad Internasional, Desa Jatinom, Kecamatan Jatinom, Klaten, Kamis (29/12) malam lebih menyuguhkan kolaborasi budaya lintas negeri.

Tokyo Sobo Joglo sendiri adalah tema acara yang diusung dalam gelaran tersebut, karena memang menggabungkan antara kultur dari Jepang dan Jawa.

Nanda Goeltom, vokalis Absurdnation (grup band format indie jazz eksperimental asal Semarang) yang juga penggagas Tokyo Sobo Joglo mengatakan bahwa acara ini tidak akan terselenggara tanpa bantuan dari teman-teman Gangsadewa (grup musik dari Yogyakarta, red).

“Bantuan dari teman-teman dari Gangsadewa, ini merupakan sahabat-sahabat mereka, karena teman-teman Gangsadewa pernah diundang Pak Makoto ke Jepang, terus Pak Makoto memberikan kunjungan balik. Nah waktu kunjungan balik ini memang teman-teman Gangsadewa berusaha untuk menawarkan hal yang berbeda dari biasanya, makanya terus ditawarkan ke Jatinom, kebetulan kita juga berhubungan baik dengan Gangsadewa,” jelasnya saat ditemui selepas acara di Joglo Ash-Shomad, Kamis (29/12).

Makoto Nomura sendiri adalah seorang profesor musik asal Jepang yang paling inovatif. Dalam acara tersebut Makoto membawa grup musiknya yang bernama Senju Dajare Music Orchestra yang berjumlah 12 orang. Di mana mereka ini adalah mahasiswa-mahasiswanya di Kyoto University of Art and Design.

 

Adapun kolaborasi dilakukan dengan beberapa musisi, diantaranya Gangsadewa, AbsurdNation, dan Senju Dejare Music Orchestra.

Sebelumnya telah diadakan serangkaian acara pendukung seperti workshop gamelan dan jemparingan (panahan tradisional). Konsep acara ini dimotori langsung oleh Memet Chairul Slamet (Gangsadewa).

Saat dimintai tanggapan dari acara ini, Nanda pun tidak menyangka bisa mendapatkan respon positif dari masyarakat. Karena dari segi waktu persiapan juga mepet.

“Ternyata banyak banget yang merespon positif. Dan sebenarnya ini acara yang hitungannya cukup dadakan,” jelasnya.

Sebenarnya Makoto Nomura pun dari awal tidak ada niatan untuk ke Desa Jatinom apalagi menggelar acara ini.

“Sebenarnya teman-teman ini tidak ada agenda untuk mampir ke Desa Jatinom ini karena mereka sebenarnya pertunjukkannya ada di ISI Yogyakarta, tapi atas inisiatif beberapa sahabat, kita kirim foto-foto mengenai desa sini dan mereka ternyata sangat tertarik sekali untuk berkunjung ke sini awal acaranya kan seperti itu,” tambahnya.

Meski acara diiringi hujan gerimis, namun hal itu tidak menyurutkan minat masyarakat untuk menyaksikan hingga akhir acara. Terbukti hingga acara ditutup, antusias masyarakat masih penuh.

 

Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here